Nak…
Begitu jauh jalan yang telah kau tempuh
‘Tuk sekadar melepaskan rindu kedua orang tuamu
Tapi kini engkau sendiri
Hanya bertemankan angin di sela rimbun pohon bambu
Tak usahlah dirimu lantas berkeluh kesah atau sedih
Bukankah engkau lelaki yang kelak pun akan sendiri?
Toyoko Hospital (Musahikosugi)
26 Maret 2002: Pukul 5.11
Hikari Aufa Rafiqi…
Nama itu yang kami berikan padamu, Nak. Aufa, kelak
dengan sebuah kata itu engkau akan disapa. Bukan
sekadar kata, karena nama adalah do’a setiap orang
tua. Kami pilihkan nama itu jauh hari sebelum engkau
lahir di bumi Allah ini. Hikari berarti “cahaya”
sedangkan Aufa Rafiqi berarti “pendamping yang setia”.
Hikari pun bisa berarti “Hadary nikahi Ria� serta
rumah tempat tinggal mu nanti adalah Hikari Haitsu,
namanya.
Tidakkah nama itu pilihan terbaik untukmu, Nak?
Di sore ini akhirnya lengking tangismu menyapa dunia
walau dengan operasi Caesar. Duh… sungguh kasihan
engkau, Sayang. Terlalu lama di kandungan, hingga
makan minummu adalah kotornya air ketuban. Karenanya,
menurut dokter dirimu terlahir dengan indikasi
penyakit Pneumothorax. Saat itu juga engkau diberikan
bantuan oksigen dan dirawat di incubator.
Aufa…
Cepatlah sembuh, agar kedua orang tuamu ini dapat
memeluk tubuhmu. Tak inginkah segera kau hirup aroma
surga dalam ruahan air susu?
27 Maret 2002:
Menjelang Sore
Kondisimu tak membaik, Sayang. Kondisi paru-parumu
semakin memburuk sehingga dibutuhkan pernafasan
buatan. Bahkan ketika malam belum lama berselang,
fungsi hati dan sirkulasi darahmu pun juga turut
memburuk.
Kisaran Pukul 9.30 Malam
“Ini Abi dan Ummi, Nak…” sapa kami bersama ketika
menjengukmu pertama kali. Tubuh kecilmu bagai tersiksa
karena berbagai peralatan seperti berlomba menyakiti.
Sabarlah, dan dengarkan kalimat suci ini.
Allaahu Akbar… Allaahu Akbar…
Asyahadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna
Muhammadar Rasulullah…
Adzan dan iqamat pun lirih terdengar, karena kaca
kotak incubator seakan menjadi penghalang. Ingatlah
seumur hidupmu, Sayang. Allah saja Tuhan kita, dan
Muhammad adalah utusan-Nya.
“Katakanlah: Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan,
Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau
kehendaki dan engkau cabut kerajaan dari orang yang
Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau
kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau
kehendaki. Ditangan Engkaulah segala kebajikan.
Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau
masukkan siang kedalam malam. Engkau keluarkan yang
hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati
dari yang hidup. Dan Engkau berikan rezeki kepada
siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab.”
[Al Imran: 26-27]
Janji-Mu selalu pasti ya Rabbi. Ikhlaskanlah hati kami
ini…
Namun…
Sungguh IA Mahakuasa, engkau seperti terlihat membaik
keadaannya. Inikah rahasia begitu dekatnya hati
seorang anak dengan orang tuanya?
Seibu Hospital (Mitsukyo, Yokohama)
Menjelang Pukul 11 Malam
Anakku…
Abi diminta datang ke Seibu Hospital, karena
sebelumnya engkau pun telah dipindahkan ke sana.
Mungkin kah karena peralatannya lebih lengkap?
Entahlah, karena yang pasti alat-alat itu tak akan
berhenti menyakitimu.
Waktu memang tak pernah berhenti menunggu, Nak. Setiap
detik sungguh sangat berarti. Berselimut udara dingin
dan kelopak Sakura yang jatuh berguguran satu persatu,
Abi berlari ke rumah sakit. Jauh sungguh langkah
dipacu, tapi sungguh pula tak berarti kerinduan hati
ini kepadamu.
28 Maret 2002:
Kisaran Pukul 4 Subuh
Aufa…
Tubuh kecilmu Abi pangku. Seakan lunas segala
kerinduan di hati ketika engkau dalam dekapanku.
Ini Abi, Nak. Seseorang yang selalu berbicara denganmu
walau engkau masih di dalam kandungan Ummi-mu.
Dengarkanlah pula lagu yang sering Abi senandungkan
untukmu.
Siapa yang menciptakan bumi dan seisinya,
siapa yang menghidupkan bumi dan seisinya,
siapa yang memberi rizki bumi dan seisinya, yang
menghidupkan dan mematikan bumi dan seisinya,
Allah Maha Pencipta Allah Maha Penyayang Dialah Allah
yang Maha Kuasa tuk mengatur alam semesta
Subhanallah…
Dari monitor peralatan yang kabelnya terpasang pada
tubuhmu, engkau terlihat membaik, Sayang.
Allah, Nak… Hanya IA yang berkuasa mengatur hubungan
hati anak dan orang tuanya.
Tapi maafkan, karena Abi harus menelpon Ummi-mu,
engkau pun kutinggalkan sebentar. Ssst… tenanglah,
hanya sebentar. Tapi tak lama perawat pun menyusul
seraya mengatakan bahwa kondisimu malah memburuk.
Engkau kini tak hanya menggunakan alat pernafasan
buatan, tapi dadamu telah pula ditekan-tekan.
Aufa…
Tahanlah rasa sakit, karena engkau laki-laki. Sabar
dan ikuti kalimat thoyibah ini, Allah… Allah… Allah…
Subhanallah… Subhanallah… Subhanallah…
Sayang…
Lihat! Ummi-mu telah datang menyusul, Nak.
Pukul 6.31 Pagi
Duh Anakku…
Betapa Abi dan Ummi ini sekian lama menanti
kehadiranmu. Betapa pula rasa sayang kami begitu besar
kepadamu, Nak. Tapi betapa pun besarnya rasa ini,
tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala lah yang lebih sayang
kepada dirimu. Bukankah hanya IA yang disebut
Mahapengasih dan Mahapenyayang?
Pagi ini, ketika di luar dingin masih terasa menggigit
dan kelopak Sakura di jalan mengigil, engkau pun
berpulang dalam pelukan Abi dan Ummi. Tak hanya
sekejap saja, tapi selama-lamanya kembali kepada Sang
Pencipta.
Meninggalkah engkau, Nak? Karena yang Abi dan Ummi
lihat engkau bagai tertidur nyenyak. Aufa masih suci,
tiada dosa sama sekali.
Pukul 4.20 Sore
“Selamat jalan, Sayang…,” ketika tubuh kecilmu Abi
letakkan di liang lahat. Beristirahatlah di
Yamanashi-ken ini, sebuah tempat yang terkenal dengan
kebun anggur dan kuburanmu berada di sebalik rimbun
pohon bambu.
Ssst…
Jangan takut dan marah pada kami, Nak. Abi sayang
Aufa, Ummi juga. Tapi Allah tentu lebih sayang dengan
Aufa. Engkau harus berani sendirian di sini, karena
Aufa laki-laki.
Sabar ya, Sayang…
Insya Allah Abi dan Ummi juga akan berusaha sabar,
hingga Allah kelak akan mempertemukan kita kembali.
Hari-Hari Pun Berganti…
Anakku…
Begitu banyak yang telah engkau berikan kepada Abi
Ummi dalam pendek usiamu. Karena kelahiranmu harus
melalui operasi, baru diketahui kalau ternyata ada
tumor yang menempel di indung telur sebelah kiri Ummi.
Sehingga saat itu juga langsung dioperasi.
Tak terhitung pula hikmah yang diberikan-Nya dari
proses kehadiranmu di rahim dan kehidupanmu yang
sebentar di bumi Allah ini. Betapa tipisnya batas
antara hidup dan mati, karenanya kita tak akan tahu
kapan hal itu akan terjadi.
Tidakkah engkau tahu, Nak. Sehari setelah kelahiranmu
Abi langsung mengurus Surat Kelahiran di Miyamae Ward
Office. Masih terbayang di pelupuk mata ketika
mengurus asuransi kesehatan, menerima hadiah figura
foto dari mereka, serta banyak lagi. Dan esok hari
harus menerima kenyataan bahwa Abi harus mengurus
Surat Kematianmu di tempat yang sama ini.
Ah…
Tidakkah kematian adalah sebuah pelajaran bagi setiap
yang bernyawa? Siapkah berpulang dalam keadaan baik
kepada-Nya? Akankah mati dalam keadaan khusnul
khotimah?
Allaahumma hawwin ‘alainaa fii sakaraatil maut
Ringankan kematianku yaa Allah, mudahkanlah duhai
Pemilik Jiwa
Nak…
Hari-hari setelah kepergianmu, kehilangan tentu saja
terasa, walau kehadiranmu di dunia sebentar
saja.Teramat dalam rasa sedih mengaduk-aduk relung
hati Abi dan Ummi. Begitu banyak rencana yang telah
tersusun rapih, namun sekarang perlahan harus
dilupakan. Memang, Allah-lah sebaik-baik yang
merencanakan.
Lihatlah air mata kami yang selalu menggenang ketika
setiap kali air susu Ummi harus dipompa lalu dibuang.
Itu semua sebenarnya untukmu, Sayang. Air yang
tercipta dari Pemilik Surga, diamanahkan kepada
seorang ibunda yang telapak kakinya terletak surga,
niscaya akan beraroma surga.
Namun…
Bukankah kehidupanmu di sana pasti jauh lebih
menyenangkan? Dipelihara oleh Ayahanda Ibrahim ‘alaihi
salam dan Ibunda Sarah di sebuah gunung beserta
anak-anak Muslim lainnya. Diasuh hamba-hamba pilihan
yang tentu saja lebih baik pengasuhannya.
Duhai Gusti Allah…
Jadikanlah kami ini hamba-Mu yang pandai bersabar,
hingga kelak kepastian pertemuan itu tiba.
“Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada
orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang mereka kerjakan.”
[An-Nahl: 96]
Aufa…
Selamat jalan, Sayang. Engkau anugerah yang sungguh
berharga, bentuk cinta kasih dan buah hati Abi dan
Ummi. Anak yang sholeh, dan menjadi “pendamping yang
setia”, sesuai dengan harapan kami pada namamu,
Anakku.
Sampai berjumpa lagi, Nak. Insya Allah karena rahmat
dan sayang-Nya, semoga akan mempertemukan kita semua
kelak di surga.
ALlahu a’lam bish-shawab.
-Abu Aufa-
(Ketika waktu nan jauh terentang, rindu dan kenangan
tak mungkin terbenam)
Penulis: Abu Aufa (http://abuaufa.multiply.com/)