Archive for October, 2005

orang desa puji pejabat

Saturday, October 22nd, 2005

Ada pejabat yg datang ke suatu daerah untuk kampanye
pemilu .pada saat di panggung sang pejabat berkata di
depan khalayak banyak…

Pejabat(PJ): “bila kami terpilih nanti pasti kampung
ini akan kami bangun lapangan usaha yg besar untuk
kemajuan desa ini”

Penduduk(PD): “willo-willo”

merasa disambut,sang pejabat meneruskan janji2nya..

PJ: “selain itu kami akan bangun pesantren2 dan
sekolah2 untuk SDM yg lebih baik”

PD: “willo-willo”

PJ: “dan ..kami akan bebaskan biaya pendidikan!”,kata
pejabat itu dgn semangat…

PD: “willo-willo”,balas warga semangat

setelah berkampanye,pejabat itu pun berkeliling dgn
maksud melakukan survei atau basa basi dgn
penduduk.Hal pertama yg ditinjau pejabat itu adalah
peternakan.di peternakan , pejabat itu hendak melihat
kandang babi namun seketika itu ditahan oleh yg
punya…

Pemilik Babi(PB): “Pak jangan masuk kedalam pak…”
PJ: ” loh..kenapa saya nggak boleh masuk? ”
PB: ” itu lo pak ..willo-willo babinya bau pak! ”

Saat Hidup Berhenti

Saturday, October 22nd, 2005

Jakarta16





wahai insan
di dunia fana
hari itu
saat air berhenti mengalir ia membeku
hari itu
saat udara berhenti berhembus ia senyap
hari itu pasti
saat nafas hilang
ia bercerai dengan paru
jangtung rehat beristirahat
dan vena arteri berhenti
hari dimana suatu yang pasti

Nganter Om Ke Bandara

Wednesday, October 19th, 2005

Dear Diary,

Hari ini ‘Adla baru bisa isi diary lagi nich …. soalnya papah sibuk terus sampe ngga sempet ngisi diary ‘Adla,
Oya diary… kemaren ‘adla nganter om ‘Adla yang mo kerja di jepang , ‘Adla nganterin sampe bandara doang , mudah2x an aja om angga betah kerjanya biarin nanti klo ‘Adla dah gede minta diajakin kejepang sama om angga …khan asyik tuh …xixixixi…
oya … pesen buat om angga , jangan lupa bawain atau kirimin ‘Adla oleh2x nya kalo udah sampe dijepang dan juga jangan lupa sama abah sama ambu dijakarta sini …ya om ya ……
Klo bisa uang om ditabung jangan dipake maen terus ya om … nanti ‘Adla minta duitnya om deh … hehehehe .
segitu aja dulu diary … pesen aja buat om angga jangan maen terus dan jangan lupa ama yang dikampung halaman .
dah………

Left-handed

Wednesday, October 19th, 2005

A wife asked her husband, “Honey, if I died, would you remarry?”
“After a considerable period of grieving, I guess I would. We all need companionship.”
“If I died and you remarried,” the wife asked,”would she live in this house?”
“We’ve put a lot of money into this house. So I guess she would.”
“If I died and you remarried and she lived in this house,” the wife continued, “would she sleep in our bed?”
“Well, the bed is brand new, and it cost us over two thousand dollars. It’s going to last a long time, so I guess she would.”
“If I died and you remarried and she lived in this house and slept in our bed, would she use my golf clubs?”
“Oh, no,” the husband replied. “She’s left-handed.”

Taken from : guyoon_yook@yahoogroups.com

Karena Aufa Laki-Laki

Wednesday, October 19th, 2005

Nak…
Begitu jauh jalan yang telah kau tempuh
‘Tuk sekadar melepaskan rindu kedua orang tuamu
Tapi kini engkau sendiri
Hanya bertemankan angin di sela rimbun pohon bambu
Tak usahlah dirimu lantas berkeluh kesah atau sedih
Bukankah engkau lelaki yang kelak pun akan sendiri?

Toyoko Hospital (Musahikosugi)
26 Maret 2002: Pukul 5.11

Hikari Aufa Rafiqi…
Nama itu yang kami berikan padamu, Nak. Aufa, kelak
dengan sebuah kata itu engkau akan disapa. Bukan
sekadar kata, karena nama adalah do’a setiap orang
tua. Kami pilihkan nama itu jauh hari sebelum engkau
lahir di bumi Allah ini. Hikari berarti “cahaya”
sedangkan Aufa Rafiqi berarti “pendamping yang setia”.
Hikari pun bisa berarti “Hadary nikahi Ria� serta
rumah tempat tinggal mu nanti adalah Hikari Haitsu,
namanya.

Tidakkah nama itu pilihan terbaik untukmu, Nak?

Di sore ini akhirnya lengking tangismu menyapa dunia
walau dengan operasi Caesar. Duh… sungguh kasihan
engkau, Sayang. Terlalu lama di kandungan, hingga
makan minummu adalah kotornya air ketuban. Karenanya,
menurut dokter dirimu terlahir dengan indikasi
penyakit Pneumothorax. Saat itu juga engkau diberikan
bantuan oksigen dan dirawat di incubator.

Aufa…
Cepatlah sembuh, agar kedua orang tuamu ini dapat
memeluk tubuhmu. Tak inginkah segera kau hirup aroma
surga dalam ruahan air susu?

27 Maret 2002:
Menjelang Sore

Kondisimu tak membaik, Sayang. Kondisi paru-parumu
semakin memburuk sehingga dibutuhkan pernafasan
buatan. Bahkan ketika malam belum lama berselang,
fungsi hati dan sirkulasi darahmu pun juga turut
memburuk.

Kisaran Pukul 9.30 Malam

“Ini Abi dan Ummi, Nak…” sapa kami bersama ketika
menjengukmu pertama kali. Tubuh kecilmu bagai tersiksa
karena berbagai peralatan seperti berlomba menyakiti.
Sabarlah, dan dengarkan kalimat suci ini.

Allaahu Akbar… Allaahu Akbar…
Asyahadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna
Muhammadar Rasulullah…

Adzan dan iqamat pun lirih terdengar, karena kaca
kotak incubator seakan menjadi penghalang. Ingatlah
seumur hidupmu, Sayang. Allah saja Tuhan kita, dan
Muhammad adalah utusan-Nya.

“Katakanlah: Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan,
Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau
kehendaki dan engkau cabut kerajaan dari orang yang
Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau
kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau
kehendaki. Ditangan Engkaulah segala kebajikan.
Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau
masukkan siang kedalam malam. Engkau keluarkan yang
hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati
dari yang hidup. Dan Engkau berikan rezeki kepada
siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab.”
[Al Imran: 26-27]

Janji-Mu selalu pasti ya Rabbi. Ikhlaskanlah hati kami
ini…

Namun…
Sungguh IA Mahakuasa, engkau seperti terlihat membaik
keadaannya. Inikah rahasia begitu dekatnya hati
seorang anak dengan orang tuanya?

Seibu Hospital (Mitsukyo, Yokohama)
Menjelang Pukul 11 Malam

Anakku…
Abi diminta datang ke Seibu Hospital, karena
sebelumnya engkau pun telah dipindahkan ke sana.
Mungkin kah karena peralatannya lebih lengkap?
Entahlah, karena yang pasti alat-alat itu tak akan
berhenti menyakitimu.

Waktu memang tak pernah berhenti menunggu, Nak. Setiap
detik sungguh sangat berarti. Berselimut udara dingin
dan kelopak Sakura yang jatuh berguguran satu persatu,
Abi berlari ke rumah sakit. Jauh sungguh langkah
dipacu, tapi sungguh pula tak berarti kerinduan hati
ini kepadamu.

28 Maret 2002:
Kisaran Pukul 4 Subuh

Aufa…
Tubuh kecilmu Abi pangku. Seakan lunas segala
kerinduan di hati ketika engkau dalam dekapanku.

Ini Abi, Nak. Seseorang yang selalu berbicara denganmu
walau engkau masih di dalam kandungan Ummi-mu.
Dengarkanlah pula lagu yang sering Abi senandungkan
untukmu.

Siapa yang menciptakan bumi dan seisinya,
siapa yang menghidupkan bumi dan seisinya,
siapa yang memberi rizki bumi dan seisinya, yang
menghidupkan dan mematikan bumi dan seisinya,
Allah Maha Pencipta Allah Maha Penyayang Dialah Allah
yang Maha Kuasa tuk mengatur alam semesta

Subhanallah…
Dari monitor peralatan yang kabelnya terpasang pada
tubuhmu, engkau terlihat membaik, Sayang.
Allah, Nak… Hanya IA yang berkuasa mengatur hubungan
hati anak dan orang tuanya.

Tapi maafkan, karena Abi harus menelpon Ummi-mu,
engkau pun kutinggalkan sebentar. Ssst… tenanglah,
hanya sebentar. Tapi tak lama perawat pun menyusul
seraya mengatakan bahwa kondisimu malah memburuk.
Engkau kini tak hanya menggunakan alat pernafasan
buatan, tapi dadamu telah pula ditekan-tekan.

Aufa…
Tahanlah rasa sakit, karena engkau laki-laki. Sabar
dan ikuti kalimat thoyibah ini, Allah… Allah… Allah…
Subhanallah… Subhanallah… Subhanallah…

Sayang…
Lihat! Ummi-mu telah datang menyusul, Nak.

Pukul 6.31 Pagi

Duh Anakku…
Betapa Abi dan Ummi ini sekian lama menanti
kehadiranmu. Betapa pula rasa sayang kami begitu besar
kepadamu, Nak. Tapi betapa pun besarnya rasa ini,
tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala lah yang lebih sayang
kepada dirimu. Bukankah hanya IA yang disebut
Mahapengasih dan Mahapenyayang?

Pagi ini, ketika di luar dingin masih terasa menggigit
dan kelopak Sakura di jalan mengigil, engkau pun
berpulang dalam pelukan Abi dan Ummi. Tak hanya
sekejap saja, tapi selama-lamanya kembali kepada Sang
Pencipta.

Meninggalkah engkau, Nak? Karena yang Abi dan Ummi
lihat engkau bagai tertidur nyenyak. Aufa masih suci,
tiada dosa sama sekali.

Pukul 4.20 Sore

“Selamat jalan, Sayang…,” ketika tubuh kecilmu Abi
letakkan di liang lahat. Beristirahatlah di
Yamanashi-ken ini, sebuah tempat yang terkenal dengan
kebun anggur dan kuburanmu berada di sebalik rimbun
pohon bambu.

Ssst…
Jangan takut dan marah pada kami, Nak. Abi sayang
Aufa, Ummi juga. Tapi Allah tentu lebih sayang dengan
Aufa. Engkau harus berani sendirian di sini, karena
Aufa laki-laki.

Sabar ya, Sayang…
Insya Allah Abi dan Ummi juga akan berusaha sabar,
hingga Allah kelak akan mempertemukan kita kembali.

Hari-Hari Pun Berganti…

Anakku…
Begitu banyak yang telah engkau berikan kepada Abi
Ummi dalam pendek usiamu. Karena kelahiranmu harus
melalui operasi, baru diketahui kalau ternyata ada
tumor yang menempel di indung telur sebelah kiri Ummi.
Sehingga saat itu juga langsung dioperasi.

Tak terhitung pula hikmah yang diberikan-Nya dari
proses kehadiranmu di rahim dan kehidupanmu yang
sebentar di bumi Allah ini. Betapa tipisnya batas
antara hidup dan mati, karenanya kita tak akan tahu
kapan hal itu akan terjadi.

Tidakkah engkau tahu, Nak. Sehari setelah kelahiranmu
Abi langsung mengurus Surat Kelahiran di Miyamae Ward
Office. Masih terbayang di pelupuk mata ketika
mengurus asuransi kesehatan, menerima hadiah figura
foto dari mereka, serta banyak lagi. Dan esok hari
harus menerima kenyataan bahwa Abi harus mengurus
Surat Kematianmu di tempat yang sama ini.

Ah…
Tidakkah kematian adalah sebuah pelajaran bagi setiap
yang bernyawa? Siapkah berpulang dalam keadaan baik
kepada-Nya? Akankah mati dalam keadaan khusnul
khotimah?

Allaahumma hawwin ‘alainaa fii sakaraatil maut
Ringankan kematianku yaa Allah, mudahkanlah duhai
Pemilik Jiwa

Nak…
Hari-hari setelah kepergianmu, kehilangan tentu saja
terasa, walau kehadiranmu di dunia sebentar
saja.Teramat dalam rasa sedih mengaduk-aduk relung
hati Abi dan Ummi. Begitu banyak rencana yang telah
tersusun rapih, namun sekarang perlahan harus
dilupakan. Memang, Allah-lah sebaik-baik yang
merencanakan.

Lihatlah air mata kami yang selalu menggenang ketika
setiap kali air susu Ummi harus dipompa lalu dibuang.
Itu semua sebenarnya untukmu, Sayang. Air yang
tercipta dari Pemilik Surga, diamanahkan kepada
seorang ibunda yang telapak kakinya terletak surga,
niscaya akan beraroma surga.

Namun…
Bukankah kehidupanmu di sana pasti jauh lebih
menyenangkan? Dipelihara oleh Ayahanda Ibrahim ‘alaihi
salam dan Ibunda Sarah di sebuah gunung beserta
anak-anak Muslim lainnya. Diasuh hamba-hamba pilihan
yang tentu saja lebih baik pengasuhannya.

Duhai Gusti Allah…
Jadikanlah kami ini hamba-Mu yang pandai bersabar,
hingga kelak kepastian pertemuan itu tiba.

“Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada
orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang mereka kerjakan.”
[An-Nahl: 96]

Aufa…
Selamat jalan, Sayang. Engkau anugerah yang sungguh
berharga, bentuk cinta kasih dan buah hati Abi dan
Ummi. Anak yang sholeh, dan menjadi “pendamping yang
setia”, sesuai dengan harapan kami pada namamu,
Anakku.

Sampai berjumpa lagi, Nak. Insya Allah karena rahmat
dan sayang-Nya, semoga akan mempertemukan kita semua
kelak di surga.

ALlahu a’lam bish-shawab.

-Abu Aufa-
(Ketika waktu nan jauh terentang, rindu dan kenangan
tak mungkin terbenam)

Penulis: Abu Aufa (http://abuaufa.multiply.com/)

7 Keajaiban Dunia

Wednesday, October 12th, 2005

Sekelompok pelajar kelas geografi belajar mengenai “Tujuh Keajaiban Dunia”. Pada akhir pelajaran, guru meminta pelajar tersebut untuk membuat daftar apa yang mereka pikir merupakan “Tujuh Keajaiban Dunia” saat ini. Para pelajar bergumam, tertawa, dan berpikir. Mereka membayangkan semua yang hebat, yang mencengangkan.

Walaupun ada beberapa ketidaksesuaian, sebagian besar daftar berisi:
1. Piramida Besar di Mesir
2. Taj Mahal
3. Grand Canyon
4. Panama Canal
5. Empire State Building
6. St. Peter’s Basilica
7. Tembok China

Ketika mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang pelajar, seorang gadis yang pendiam, yang belum mengumpulkan kertas kerjanya. Jadi, sang guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan dengan daftarnya.

Gadis pendiam itu menjawab, “Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena sangat banyaknya.”

Sang guru berkata, “Baik, katakan pada kami apa yang kamu miliki, dan mungkin kami bisa membantu memilihnya.”

Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca,”Saya pikir Tujuh Keajaiban Dunia adalah:
1. Bisa bersyukur
2. Bisa merasakan
3. Bisa tertawa
4. Bisa mendengar

Dia ragu lagi sebentar, dan kemudian melanjutkan…
5. Bisa berbagi
6. Bisa mencintai
7. Dan bisa dicintai

Ruang kelas tersebut sunyi seketika…

Alangkah mudahnya bagi kita untuk melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya “keajaiban” sementara kita lihat lagi semua yang telah Tuhan lakukan untuk kita, menyebutnya sebagai “biasa”.

Semoga Anda hari ini diingatkan tentang segala hal yang betul-betul ajaib dalam kehidupan Anda. bersyukurlah untuk apa yg telah anda dapatkan sampai saat ini, karena itu sesungguhnya semua merupakan suatu “keajaiban”.

Taken from : www.suaramerdeka.com

Arogansi Amerika …..

Wednesday, October 12th, 2005

Cuplikan percakapan radio antara kapal perang
Amerika dan otoritas Rusia.

Rusia: “Harap belokkan kapal Anda 15 derajat ke
Selatan untuk menghindari tabrakan.
Amerika: “Lebih baik Anda yang membelok!”
Rusia: “Anda yang harus membelok untuk menghindari
tabrakan!”

Amerika: “Saya kapten US Navy. Saya bilang
belokkan
kapal Anda!!!!”

Rusia: “Tidak. Saya katakan sekali lagi, belokkan
kapal Anda!!!”

Amerika: “Ini adalah Aircraft Carrier US Lincoln,
kapal kedua terbesar dari Armada Atlantik, Amerika
Serikat. Kami dilengkapi tiga destroyer, tiga
cruiser dan sejumlah kapal pendukung. Saya MINTA
Anda belok 15 derajat ke Utara. Sekali lagi saya
ulangi 15 derajat ke Utara, atau sebuah tindakan
akan dilakukan untuk mengamankan kapal Anda!”

Rusia: “Amerika goblok!!!!! Ini mercusuar!!!”

Gado-gado ….

Wednesday, October 12th, 2005

Gimana cara bedain gado-gado yang pedes sama yang
nggak pedes?
Yang pedes karetnya satu, yang nggak pedes
karetnya
dua.

=====================

Seorang guru baru tengah mengabsen murid-muridnya.
Sang guru tertarik dengan sebuah nama, dan dengan
penasaran si guru lalu memanggil muridnya.

Guru: “Smary Saklitinov, coba kemari!”
Murid: “Ya bu, saya.”
Guru: “Sini kamu nak, kamu keturunan Yugoslavia
yach?”
Murid: “Nggak bu!”
Guru: “Lalu kenapa nama kamu Smary Saklitinov?”
Murid: “Oo…itu, Smary itu singkatan dari nama
bapak saya (S)urtono dan ibu saya (Mary)anti.”
Guru: “Mmmm…lalu Saklitinov?”
Murid: “Sabtu Kliwon Tujuh November.”

Hari Ini

Tuesday, October 11th, 2005

Dear Diary,

hiks…hiks….hari ini ‘Adla nggak ketemu papah …habisnya papah pagi banget sich berangkatnya . Tapi ngga apa-apa ‘Adla ngerti koq klo papah harus kerja … lagian tadi pagi papah juga nyempetin untuk nyium ‘Adla …..

Hati2x ya pah …kerja yang bener , ‘Adla sayang papah …muachhh…

Jangan Benci Aku Mama ..

Tuesday, October 11th, 2005

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan.

Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.

Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.

Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arah saya. Sambil tersenyum ia berkata, “Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada Mommy!”

Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya, “Tunggu…, sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?”

“Nama saya Elic, Tante.”

“Eric? Eric… Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?”

Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati…, mati…, mati… Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric…

Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. “Mary, apa yang sebenarnya terjadi?”

“Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu.” tTpi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak…

Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric…

Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali… Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu.

Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya…

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun keluar dari ruangan itu… Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

“Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!”

Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?”

Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…”

Saya pun membaca tulisan di kertas itu…

“Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…”

Saya menjerit histeris membaca surat itu. “Bu, tolong katakan… katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!”

Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana… Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana. Nyonya,dosa anda tidak terampuni!”

Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi. (kisah nyata di irlandia utara)

Taken from : www.suaramerdeka.com